Rabu, 13 MEI 2026 • 01:21 WIB

Yakuza Maneges Hadir di Kediri, Dari Nama Kontroversial Menjadi Gerakan Sosial dan Dakwah

Author

Yakuza Organisasi Dakwah (Foto Istimewa)

Kediri - Nama “Yakuza” selama ini identik dengan kelompok mafia Jepang. Namun di Kota Kediri, Jawa Timur, nama itu justru dipakai sebagai identitas sebuah organisasi sosial dan dakwah yang baru saja dideklarasikan. Kehadiran “Yakuza Maneges” langsung memancing perhatian publik sekaligus rasa penasaran masyarakat.

Deklarasi organisasi tersebut digelar di salah satu hotel di Kota Kediri pada Sabtu malam, 9 Mei 2026. Acara itu dihadiri sejumlah tokoh agama, pejabat daerah, hingga unsur kepolisian. Suasana deklarasi berlangsung meriah dengan nuansa religius yang cukup kuat.

Yakuza Maneges diprakarsai oleh Gus Thuba Topo Broto Maneges, cucu ulama kharismatik KH Hamim Djazuli atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miek. Sosok Gus Miek sendiri dikenal luas memiliki pendekatan dakwah yang dekat dengan masyarakat akar rumput dan kelompok marjinal.

Dalam sambutannya, Gus Thuba menegaskan bahwa Yakuza Maneges bukan organisasi kriminal seperti persepsi banyak orang saat pertama mendengar namanya. Ia menyebut organisasi ini hadir sebagai wadah transformasi sosial dan spiritual bagi masyarakat yang ingin memperbaiki diri.

Menurutnya, nama “Yakuza” dipilih bukan untuk menampilkan kesan kekerasan atau premanisme. Nama tersebut justru dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup seseorang yang pernah berada di jalan kelam lalu berproses menuju kehidupan yang lebih baik secara spiritual maupun sosial.

“Yang kami rangkul adalah mereka yang mungkin selama ini merasa dijauhi, dihakimi, atau tidak punya tempat untuk berubah,” ujar Gus Thuba dalam deklarasi tersebut.

Ia juga menyebut Yakuza Maneges membuka ruang bagi kelompok yang disebut “santri jalur kiri”, istilah yang kerap dipakai untuk menggambarkan orang-orang dengan latar belakang keras, kehidupan jalanan, atau masa lalu yang kelam tetapi ingin mendekat kepada agama.

Organisasi ini mengusung slogan “Gas Tanpa Ampun”. Namun slogan tersebut diklaim bukan ajakan pada tindakan negatif, melainkan semangat untuk bergerak aktif dalam kegiatan sosial, dakwah, dan kemanusiaan tanpa setengah-setengah.

Gus Thuba menegaskan Yakuza Maneges tetap berjalan dalam koridor hukum serta mendukung aparat penegak hukum. Ia berharap masyarakat tidak hanya terpaku pada nama, tetapi melihat tujuan dan gerakan yang dibangun organisasi tersebut.

Kehadiran Yakuza Maneges juga mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Kediri. Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, mengapresiasi semangat organisasi yang mencoba merangkul masyarakat tanpa menghakimi latar belakang mereka.

Menurut Vinanda, pendekatan seperti itu sejalan dengan visi Kota Kediri yang aman, agamis, produktif, dan nyaman. Ia menilai ruang pembinaan sosial dan spiritual memang perlu dibuka seluas mungkin agar masyarakat memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Deklarasi Yakuza Maneges kini menjadi perbincangan luas di media sosial. Banyak masyarakat penasaran bagaimana organisasi ini akan bergerak ke depan. Di tengah kontroversi namanya, Yakuza Maneges justru mencoba membangun citra sebagai gerakan dakwah yang merangkul mereka yang selama ini berada di pinggiran sosial.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Online

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU